Tempe mlanding, usaha sampingan yang menggelinding

Panitia seleksi penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) Wonogiri menambah lokasi pelaksanaan tes dari 30 lokasi menjadi 34 lokasi. Langkah ini diambil mengingat banyaknya peserta tes yang lolos seleksi administrasi.

Bagi masyarakat Mojopuro, Kecamatan Jatiroto tempe mlanding menjadi ciri khas daerah tersebut. Berbeda dengan daerah lainnya, jika banyak orang telah mengenal tempe kedelai ataupun tempe benguk, maka warga Mojopuro hingga saat ini masih berusaha mengenalkan tempe mlanding kepada masyarakat luas.
Guna mengenalkan tempe mlanding tentunya dibutuhkan pengorbanan baik materi maupun tenaga. Kiranya hal tersebut sudah disadari masyarakat Mojopuro, sehingga saat ini pembuatan tempe mlanding sudah menjadi salah satu alternatif dalam memenuhi kebutuhan hidup selain profesi petani.
”Saat ini memang home industry yang banyak digeluti masyarakat adalah membuat tempe mlanding. Setidaknya terdapat 32 dari 734 keluarga yang menggeluti bisnis tempe mlanding,” jelas Kepala Desa Mojopuro, Hartono kepada Espos, Minggu (23/11).
Dilihat dari rasanya, sambungnya, kelezatan tempe mlanding tidak kalah dengan tempe kedelai maupun tempe benguk. Begitu pula, kandungan protein dalam tempe mlanding juga cukup tinggi. Proses pembuatan tempe mlanding hampir sama dengan tempe kedelai maupun tempe benguk. Pemdes dan masyarakat setempat menggalakkan home industry itu agar makin menggelinding.
Daerah pemasaran tempe tersebut di antaranya Pacitan, Kota Wonogiri dan Ponorogo. Rata-rata produksi tempe mlanding setiap hari mencapai dua kuintal, sebungkus tempe mlanding harganya Rp 500.
Pengrajin tempe mlanding, setiap hari bisa mencapai Rp 100.000. Dengan demikian, home industry tersebut perlu untuk dikembangkan.
”Kelompok pengrajin tempe mlanding di sini namanya Sri Rahayu. Semoga dengan ketekunan dan keinginan masyarakat, di masa mendatang dapat menyerap tenaga kerja lebih banyak lagi,” harapnya.
Menurut dia, industri ini mulai muncul 10 tahun lalu. Hampir semua warga dusun di Desa Mojopuro melirik industri sampingan tersebut. Di Mojopuro terdapat empat dusun, yakni Dusun Mangrih, Ngorok, Gayam, dan Pondok.
“Kendala yang sedang kami hadapi adalah belum adanya alat spesifik yang dapat mencetak tempe mlanding dalam sekejap. Selain itu, kendala klasik yang dihadapi adalah permodalan. Semoga dalam waktu dekat akan ada bantuan dari Pemkab Wonogiri di luar program nasional pemberdayaan masyarakat (PNPM),” terang dia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: