Dari Rakyat sampai Bupati Wonogiri Makan Tiwul

February 18, 2010


Program pemerintah pusat untuk mencukupi kebutuhan rakyat miskin dengan gelontoran beras miskin (raskin) sebanyak 13 kg/keluarga/bulan tidak membuat sebagian besar rakyat miskin di Wonogiri bagian selatan lepas dari makanan tiwul.

Beras menjadi seperti barang pusaka yang sangat berharga yang dikeluarkan saat warga menggelar perhelatan perkawinan, supitan atau, syukuran kelahiran bayi. Banyak petani miskin di wilayah Kecamatan Pracimantoro, Paranggupito, Giritontro, dan desa-desa di bagian selatan yang merupakan penghasil ketela pohon atau gaplek lebih menikmati tiwul (makanan pengganti nasi, terbuat dari bahan baku ketela pohon) ketimbang nasi.

“Rasanya belum disebut makan, kalau belum makan tiwul. Nasi ya ada, tetapi hanya pelengkap. Nasi kita makan ramai-ramai pada saat warga mempunyai hajatan mantu, supitan, atau syukuran kelahiran anak,” ungkap Mbah Sastro, 62, petani desa Song Bledeg, Kecamatan Paranggupito di sela-sela merawat tanaman ketela pohon di tegalannya yang lumayan luas. Sejumlah petani berucap sama bahwa setiap hari tiwul menjadi makanan sehari-hari dan nasi hanyalah sebagai pelengkap.

Bupati Wonogiri Begug Poernomosidi sendiri selama ini menjauh dari makanan nasi dan memilih tiwul sebagai pengenyang perutnya sehari-hari. “Makan tiwul sudah menjadi kebutuhan utama perut saya. Dan ini bukan karena saya benci nasi, tetapi ya sudah menjadi kegemaran, seperti orang Papua suka akan sagu ketimbang beras. Dan Insya Allah, saya akan terus makan tiwul,” ujarnya kepada Media Indonesia di sela-sela makan siang dengan tiwul di rumah dinasnya, Rabu (17/2).

Terkait keseriusan pemerintah pusat yang berkeinginan melakukan penyebaran raskin sampai pelosok desa, Begug menegaskan, dirinya telah melakukan kontrol secara seksama. Ia melarang aparatnya mengurangi jatah yang sudah ditetapkan, karena pertimbangan ingin membagi rata dan adil kepada rakyat lainnya yang belum mendapatkan.
SUMBER : MEDIA INDONESIA

Foto Mesum Bupati dan Wabup Pekalongan Qomariyah Ponco

February 18, 2010

Akun facebook tersebut bernama Qomariyah Ponco. Sekadar diketahui, Qomariyah tak lain adalah nama Bupati Pekalongan. Sedangkan Ponco adalah sang wakil bupati. Masing-masing bernama lengkap Siti Qomariyah dan Wahyudi Ponco Nugroho.

Ini alamat account Qomariyah Ponco : Qomariyah Ponco on Facebook
Di album foto akun tersebut, terdapat 22 foto seronok Qomariyah dan Ponco. Sebagian besar foto-foto itu memuat gambar Qomariyah hanya mengenakan pakaian dalam. Beberapa lainnya, lebih vulgar lagi.

Di album itu juga terdapat 2 foto Qomariyah yang sedang berdekapan mesra dengan Ponco. Di salah satu foto, keduanya tampak berpakaian lengkap. Namun di foto lainnya, mereka tampak berbusana minim.

Pada bagian motto tertera kalimat “Kemesraan modal awal membangun komitmen bersama untuk menjadi Bupati dan Wakil….berikut hobi menyalurkan birahi di hari valentine”.

Keberadaan akun facebook ini tentu saja membuat geger warga Pekalongan. Sejumlah warga Pekalongan yang gemar berselancar di dunia maya mengaku kaget saat menemukan akun facebook tersebut.

“Saya sangat kaget karena foto tersebut sangat jelas. Warga Pekalongan tentu kenal siapa mereka (Qomariyah dan Ponco),” ujar Nuryanto (35), warga Desa Bojong, Kecamatan Bojong, Kamis (18/2/2010).

Belum bisa dipastikan siapakah pembuat akun facebook tersebut. Bukan tidak mungkin, akun tersebut sengaja dibuat untuk menyudutkan Qomariyah maupun Ponco. Qomariyah dan Ponco belum bisa dikonfirmasi mengenai hal ini. Nomor telepon selular keduanya saat dihubungi tidak aktif.

Berdasarkan catatan detikcom, peredaran foto-foto ‘panas’ keduanya bukan sesuatu yang baru. Hal serupa pernah terjadi pada tahun 2006 lalu, tepatnya menjelang pelaksanaan Pilkada Pekalongan. Saat itu Qomariyah dan Ponco merupakan salah satu pasangan calon bupati dan calon wakil bupati.

Tapi kisah perselingkuhan tersebut tidak menjadi batu sandungan bagi keduanya untuk meraih posisi tertinggi di Kabupaten Pekalongan. Pasangan yang diusung PKB dan Partai Golkar ini tetap memenang pilkada dengan memperoleh 227.137 suara atau 52,23 persen. Dan setelah resmi menjadi bupati dan wakil bupati, keduanya juga tidak bercerai dengan pasangannya masing-masing.