Praja Kota Gaplek bakal demo ke Jakarta

February 16, 2010


Wonogiri
Sebanyak 340 perangkat desa (Perdes) dari Wonogiri siap berangkat ke Jakarta, Minggu (21/2), untuk ikut berdemo mendesak segera disahkannya undang-undang (UU) tentang Pembangunan Perdesaan di Gedung DPR/MPR Senayan, Jakarta, Senin (22/2).

Sebagai persiapan untuk keberangkatan tersebut, sejumlah pengurus Paguyuban Praja Giri Manunggal, Senin (15/2), mendatangi Komisi I DPRD Wonogiri untuk meminta dukungan moral sekaligus pembekalan. Setelah dari Komisi I, mereka menemui Bupati Wonogiri, H Begug Poernomosidi.

”Kami rencananya berangkat hari Minggu (21/2) dengan delapan bus, diharapkan Pak Bupati dan Ketua DPRD bisa melepas kami. Lalu hari Seninnya kami akan bergabung dengan para Perdes dari daerah lain di seluruh Indonesia untuk menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR/MPR mendesak segera disahkannya UU Pembangunan Perdesaan,” jelas Ketua Paguyuban Praja Giri Manunggal, Kenthut Suparyono, saat ditemui di Gedung DPRD kemarin.

Kenthut yang saat ini Kepala Desa Tukulrejo, Kecamatan Giriwoyo ini mengatakan seluruh biaya untuk keberangkatan ke Jakarta itu ditanggung sendiri oleh para Perdes. Semua itu demi kepentingan pembangunan masyarakat perdesaan.

Diungkapkan Wakil Ketua Paguyuban Praja Giri Manunggal, yang juga Kades Ngadirojo Kidul, Kecamatan Ngadirojo, Wiyono, aksi Senin depan, akan menekankan tuntutan pokok, agar dalam UU Pemerintahan Desa dan UU Pembangunan Perdesaan diloloskan pasal-pasal di antaranya yang memuat adanya alokasi dana desa minimal 10% dana block grant dari APBN, masa jabatan kepala desa diperpanjang dari enam tahun menjadi delapan atau 10 tahun.

”RUU Pemerintahan Desa dan RUU Pembangunan Perdesaan ini sudah dibahas dalam Pansus pada 2009. Tapi belum selesai dibahas, ada pergantian anggota Dewan. Di 2010, harusnya masuk prioritas pembahasan, tapi ternyata dalam program legislasi nasional hanya masuk urutan 66. Makanya kami akan mendesak agar DPR memprioritaskan pembahasan RUU tersebut tahun ini,” jelas Wiyono.

Anggota Komisi I DPRD Wonogiri, Abdullah Rabbani, memberikan dukungan sepenuhnya secara moral agar perjuangan para Perdes ini berhasil.

Selogiri : Longsor, jalan antardesa nyaris putus

February 16, 2010


Selogiri
Masyarakat tiga dusun di Desa Pare, Kecamatan Selogiri tidak lagi menikmati kenyamanan bepergian gara-gara jalan longsor.

Kondisi aspal jalan tinggal separuh sementara tebing bahu jalan cukup dalam. Longsoran semakin parah dan memanjang, setelah air hujan mengguyur Pare, dua hari ini.

Kepala Dusun Sumber Traman, Saniman, saat ditemui di lokasi kejadian, Senin (15/2), menceritakan hujan deras pada Minggu (14/2) mengakibatkan longsor susulan. Dia bercerita longsor bahu jalan itu sudah terjadi Maret 2009 dan sudah dilaporkan ke dinas terkait namun hingga kini belum mendapat perhatian.

“Bulan Maret itu, longsoran masih kecil. Panjang sekitar 6 meter, tetapi dua hari lalu hujan deras dan kemarin (Minggu-red) juga hujan deras, mengakibatkan longsor susulan.”

Diceritakan oleh Saniman, longsor susulan itu cukup memprihatinkan karena memanjang dan dalam. Kondisi aspal bahu jalan antardesa itu kini tinggal separuh.

“Warga telah menambah lebar jalan, agar kendaraan bisa melintas. Warga sendiri tidak memiliki dana untuk membangun talut jalan,” jelasnya.

Saniman menceritakan selain menambah satu gorong-gorong, warga Sumber juga telah bergotong-royong menambah lebar jalan dengan memberikan tambahan kayu.

Pemantauan di lokasi kejadian, longsor itu cukup panjang dan curam. Aspal jalan tinggal sepertiga bagian karena selebihnya longsor. Lebar jalan masih bisa digunakan untuk melintas kendaraan roda dua dan roda empat dengan roda engkel (satu). Kondisi tanah di dekat lokasi longsoran sudah merekah dan gembur sehingga jika terdapat kendaraan bertonase besar akan menggoyangkan tekstur tanah dan longsor lagi.

Kades Pare, Waluyo Dwi Brasto, menambahkan kerusakan juga menimpa jembatan Tangkruk sebelah barat kantor desa.

Camat Selogiri Bambang Haryanto didampingi Kaur Ekbang Selogiri, Sunardi, mengatakan kerusakan itu sepanjang 50 meter dan tinggi 7 meter. ”Bagi warga Dusun Traman, Rejosari dan Ngroto, akses jalan itu satu-satunya menuju kota maupun ke Mapolres Wonogiri.

”Longsor bahu jalan di Dusun Sumber, Pare itu jika dibiarkan akan memutuskan arus antardesa menuju Kelurahan Wuryorejo, Kecamatan Wonogiri.
(espos)


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.